PENYAKIT AUTIS & GEJALANYA
Tanya:
Saya ingin tahu lebih dalam mengenai penyakit Autis
Jawab:
Autis merupakan kelainan perilaku dimana penderita hanya tertarik pada aktivitas mentalnya sendiri ( seperti melamun atau berkhayal ). Biasanya tanda autis muncul sejak bayi, namun gejalanya bisa terdeteksi saat anak berusia 1 sampai dengan 3 tahun dan dapat berlanjut sampai dewasa jika tidak diterapi atau ditanggulangi.
Gangguan autis dapat ditandai dengan tiga gejala utama, yaitu:
- Kegagalan bertatap mata dengan menunjukkan ekspresi fasial maupun postur dan gerak tubuh untuk berinteraksi secara layak.
- Kegagalan membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan interes bersama.
- Ketidakmampuan berempati atau membaca emosi orang lain.
- Ketidakmampuan secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.
- Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tidak berkembang.
- Tidak ada usaha berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan kemampuan berbicara.
- Tidak mampu memulai suatu pembicaraan atau memelihara pembicaraan dua arah yang baik.
- Menggunakan bahasa tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
- Tidak mampu bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif.
- Adanya preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku tidak normal, misalnya duduk di pojok sambil menghamburkan pasir seperti air hujan yang bisa dilakukannya berjam-jam.
- Adanya kelekatan pada suatu ritual yang tidak berguna, misalnya jika mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki di keset, baru naik ke tempat tidur. Bila ada satu kegiatan di atas yang terlewati atau terbalik urutannya, ia akan sangat terganggu dan menangis berteriak-teriak minta diulang.
- Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti mengepak-ngepakan lengan, menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.
- Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang tidak berguna, seperti roda sepede yang diputar-putar, benda denagn bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya, suara-suara tertentu.
Terapi yang tepat untuk anak autis sangat bersifat individual. Untuk itu dibutuhkan seorang yang ahli dalam terapi autis untuk mengenali dan memberikan apa yang dibutuhkan, agar penderita autis dapat tumbuh berkembang dengan baik. Salah satu terapi yang digunakan adalah dengan meningkatkan kemampuan berbagi ( sharing ) sehingga dapat mendorong mereka untuk lebih berinteraksi dengan lingkungannya.
Jika terjadi kelainan perilaku pada anak, sebaiknya langsung konsultasikan ke dokter. Hal ini bertujuan agar dokter secepatnya dapat memberikan tindakan pengobatan atau letihan khusus sejak dini terhadap anak yang mengalami keadaan tersebut.
Makanan yang diberikan pada anak juga sebaiknya dijaga dengan melakukan diet bebas gandum dan bebas kasein(cfgf) yang terdapat pada susu sapi. Anak-anak juga harus menghindari makanan terlalu manis, coklat, makanan yang diawetkan dan makanan yang mengandung banyak “msg”. Penanganan lainnya, orang tua perlu menciptakan situasi dan suasana nyaman dan damai dimana anak harus berkomunikasi untuk memperoleh keinginannya. Gunakan ekspresi wajah dan gerak tubuh sebanyak mungkin. Anak-anak perlu diberi contoh, dan jangan terlalu banyak dikoreksi. Bahasa yang digunakan untuk anak autis harus sederhana, singkat dan bila perlu intonasinya menarik.
Makanan kesehatan yang dianjurkan adalah CNI-Sun Chlorella (kandungan protein nabati sebagai pengganti protein hewani untuk mengontrol fungsi syaraf), dikombinasikan dengan DMG (pembawa oksigen ke otak, penting dalam menormalkan peredaran darah di otak dan sistem syaraf) dan Phytolite (kandungannya membantu penyerapan nutrisi dan meningkatkan peredaran darah).
Sumber: CNI News Mei 2008