Sepintas, nggak ada yang aneh sama judulnya..
kelihatannya cuma 'oohh tentang puyer'. Siapa sih nggak
kenal puyer? Dari jaman kita masih kecil, sampai
sekarang kita punya anak, dokter kan sering meresepkan
puyer buat kita. Jadi, kenapa musti dibuat seminar
khusus??
Menilik para pembicara... hmmm...
1. Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK (Departemen
Farmakologi FKUI)
2. Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi (Departemen Farmasi FKUI)
3. Dr. Moh Shahjahan (WHO)
4. dr, Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (Yayasan
Orang Tua Peduli)
Kemudian ada diskusi yang diikuti para panelis dari
YLKI, IDI Jakarta, Pembicara, Majelis Kode Etik
Kedokteran, Dirjen Pelayanan Kefarmasian dan Alat
Kesehatan Depkes.
Jelas ini seminar penting. Pesertanya lumayan banyak,
ada dari mahasiswa FKUI, dokter2, apoteker2, dan juga
masyarakat awam. Pesertanya sekitar 300 orang. Makin
penasaran, hal yang begitu
biasa, diseminarkan, dengan dihadiri para ahli??
Dari seminar ini, aku lumayan terhenyak dengan
penjelasan dari Prof Rianto. Sebenarnya aku sudah tau
sih, puyer itu polifarmasi, yang akan meningkatkan efek
samping obat, yang dosisnya jadi nggak jelas, yang
meningkatkan risiko interaksi obat, de el el.
Tapi penjelasan Prof Rianto lebih membuka mata terhadap
risiko puyer yang nggak main-main. Apa aja sih risiko
pemberian puyer itu :
1. Menurunnya kestabilan obat - kenapa?
karena obat-obatan yang dicampur tersebut punya
kemungkinan berinteraksi satu sama lain.
2. Bisa jadi obatnya sudah rusak sebelum mencapai
sasaran krn proses penggerusan.
Ada obat yang sedemikian rupa dibuat, karena obat
tersebut akan hancur oleh asam lambung. Karena misalnya,
obat itu ditujukan untuk infeksi saluran pernapasan
atas, maka obat tersebut harus dibuat
sehingga terlindung dari asam lambung. Nah, kalo digerus
jadi puyer, ya obat itu akan segera hancur kena asam
lambung. Lebih buruk, obat itu bisa jadi malah akan
melukai lambung.
3. Dosis yang berlebihan - dokter kan nggak mungkin
hapal sama setiap merek obat. Jadi akan ada kemungkinan
dokter meresepkan 2 merek obat yang berbeda, namun
kandungan aktifnya sama.
4. Sulitnya mendeteksi obat mana yang menimbulkan efek
samping - karena berbagai obat digerus jadi satu (Prof
Rianto menyebutkan, ada dokter yang meresepkan sampai 57
obat dalam 1 puyer!!!), dan
terjadi reaksi efek samping terhadap pasien, akan sulit
untuk melacak obat mana yang menimbulkan
reaksi, lha wong obatnya dicampur semua...
5. Kesalahan dalam peracikan obat - bisa jadi tulisan
dokter nggak kebaca sama apoteker, sehingga bisa membuat
salah peracikan (Prof Rianto mencontohkan pasien asma
diberi obat diabetes karena apoteker
salah baca tulisan dokter. Alhasil pasien seketika
pingsan, dan saat sadar, fungsi otaknya sudah tidak bisa
kembali seperti semula).
6. Pembuatan puyer dengan cara digerus atau diblender,
sehingga akan ada sisa obat yg menempel di alatnya.
Berarti, puyer yang diberikan ke pasien, dosisnya sudah
berubah - jadi.. kalo yang diresepin
itu AB, tetep akan ada kemungkinan resistensi dong ya,
kan dosisnya udah di bawah dari yang diresepin dokter?
7. Proses pembuatan obat itu kan harus steril,
istilahnya harus dibuat dalam ruangan yang jumlah
kumannya sudah disterilkan (istilah kerennya clean room)
- lha waktu proses pembuatan puyer di
apotek... hmmm di dalem clean room kah? Apotekernya pake
sarung tangan kah?
Sisa obat lain yang sebelumnya digerus, sudah
dibersihkan dengan benarkah?
Kalo itu semua jawabannya tidak (atau salah satu aja
jawabannya tidak), means, obat yang digerus
sudah tercemar.
Yang paling mengerikan : ada obat yang sengaja dibuat
slow release, artinya dalam 1 tablet yang diminum, itu
akan larut sedikit demi sedikit di dalam tubuh. Kalo
sudah digerus jadi puyer, obat itu akan seketika
larut. Kebayang kan, berarti akan ada efek dumping...
mampukah tubuh kita menahan efek itu? Sementara, yang
biasa dikasih puyer kan bayi dan anak-anak... mampukah
tubuh kecil mereka menahan efek ini..??
Lebih terhenyak lagi, saat Dr. Moh Shahjahan dari WHO
menceritakan bawa untuk Asian Region, cuma
Indonesia yang masih pake puyer. Even Bangladesh, yang
miskin itu, sudah lama meninggalkan puyer,
karena dinilai terlalu banyak risk nya ketimbang
benefitnya.
Sayang, dari seminar tersebut, para dokter sendiri masih
pro dan kontra mengenai puyer. Kebanyakan yang pro
puyer, hanya menyoroti soal murah dan mudah (kan pasien
kecil susah minum obat)... tapi kalo sudah membahayakan
jiwa... masihkah bisa berlindung di balik alasan2
tersebut??
So far, yang bisa dilakukan hanyalah menyadari konsumen
yang bijak. Bukan dokter yang akan
menanggung efek sampingnya... tapi anak-anak kita.. jadi
bijaklah dalam memutuskan apapun yang harus
diminum oleh anak...
dr. Purnamawati menyarankan:
1. tanya diagnosa dalam bahasa medis, setiap kali kita
berkunjung ke dokter (ternyata radang
tenggorokan itu bukan diagnosa, tapi gejala... hiks..),
supaya kita bisa browsing di internet
mengenai penyakit tersebut
2. tiap kali diberi obat (atau resep) tanyakan nama
obatnya, kegunaan obat tersebut, dan efek sampingnya.
Usahakan, sebelum ditebus, browsing dulu di internet,
supaya kita benar2 tahu apa
kandungan aktif dari obat tersebut dan apa efek
sampingnya.
Selama kita masih bisa ke dokter, dan dokter masih
sempet nulis resep, artinya keadaan belum
emergency. Jadi sempatkan untuk browsing dan/atau cari
2nd opinion.
Kalo keadaan emergency, pasti dokter gak akan nulis
resep, tapi akan segera merujuk ke RS, bukan?
Semoga, berawal dari seminar ini, dunia kesehatan
Indonesia bisa lebih berbenah diri, demi
anak-anak Indonesia.
Regards,
Uci mama Kavin+Ija